oleh

Muncul Kekaisaran Fiktif, Fakhrurrazi: Ini Bukan Gejala Sosial Biasa

Nanggroe.net | Lhokseumawe, Kekaisaran sunda adalah salah satu kelompok tidak dihitung yang muncul di Bandung, Jawa Barat. Masyarakat menyebut kemunculan kekaisaran sunda ini mirip dengan keraton agung sejagat di Purworejo, Jawa Tengah.

Video tentang ‘Sunda Empire’ yang tayang di sejumlah media massa yang memakai atribut seperti militer lengkap dengan topi baret. Salah satu dari mereka ada yang berbicara tentang masa depan negara-negara yang akan berakhir pada tahun 2020.

Keberadaan sunda kekaisaran yang menerbitkan sama seperti keraton agung sejagat, karena mereka menggunakan seragam militer lengkap dengan atributnya, yang tidak jelas asal usal-usulnya.

Direktur Aktivis Millenial Aceh Fakhrurrazi, memerhatikan kerajaan fiktif tak selalu berkaitan dengan ekonomi dan masih berpeluang muncul di hari berikutnya.

“Akan selalu terjadi, dari zaman dulu ada, dan kedepan akan tetap ada”. Kata Fakhrur.

Menurut dia, berdasarkan ilmu psikologi, fenomena kerajaan fiktif seperti melintasi keraton agung sejagat di Purworejo, Jawa Tengah, dan juga kekaisaran Sunda di Bandung, Jawa Barat, biasanya dimunculkan oleh orang-orang yang berusaha delusi keagungan (delusi muluk).

Keberhasilan para penggagas kerajaan untuk menggaet pengikut, menurut dia, karena didukung dengan penguasaan kecerdasan massa, mampu meningkatkan atau meyakinkan orang lain.

Cerita-cerita disampaikan di tengah kumpulan massa mereka yang menarik membuat hal-hal yang tidak ada yang nyata kemampuan itu berpeluang menghipnotis orang lain memutuskan menjadi pengikutnya.

“Itu adalah suatu kekuatan yang bisa dipikirkan orang,” Katanya.
Sementara itu, dari sisi para pengikutnya, Fakhrur memandang keputusan mereka tak selalu dilandasi motif ekonomi. Buktinya, fenomena yang dikeluarkan kerajaan agung sejagat, para pengiring rela mengeluarkan sejumlah uang yang diminta untuk membeli yang seragam sesuai persyaratan para petani.

“Kalau kemiskinan, kenapa mereka mau membayar dua juta, artinya cukup. Syarat miskin tapi berspekulasi, ada keinginan yang ingin dicapai,” kata dia.

Keputusan menjadi pengikut, menurut dia , dapat diberikan sebagaian faktor, salah satunya dengan post power syndrone.

“Banyak di antara mereka orang tua yang dulu punya jabatan tertentu yang tidak terlalu tinggi yang kemudian kompilasi runah di mana tidak ada siapa-siapa yang bisa diperintah lalu dia yang ada disitu,” katanya.

Kemungkinan lainnya, kata Fakhrur adalah pengembalian yang disukai, atau penghargaan yang diperoleh orang tua dari anak-anak membuat aktualisasi diri, mereka memilih bergabung dengan komunitas itu.

Untuk menghindari fenomena kerajaan atau keraton palsu muncul kembali, ia meminta pemerintah dan masyarakat bersinergi untuk meningkatkan daya masyarakat melalui pendidikan jangan anggap enteng gejala sosial ini.

“Kita ingatkan iqra (membacalah) agar kita mau berfikir dan tidak mudah terpengaruh. Situasi ekonomi yang memburuk, ditambah lagi kondisi politik yang tak memberi harapan, membuat sebagian rakyat kita nyaris frustasi dan putus asa,” Sambungnya

Namun, sesulit keadaan, pada dasarnya manusia itu pantang menyerah. Manusia modern (homo sapiens) bisa bertahan dan berkembang biak hingga 7 milyar sekarang karena semangat pantang menyerah itu,” Tegasnya.

Komentar

News Feed