oleh

Ditengah Pandemi, Gencatan Senjata di Suriah Tewaskan 48 Jihadis

Nanggroe.net, Jakarta | Gencatan sejata yang terjadi sejak 6 maret sebagian besar telah membendung pertempuran di benteng pemberontak Idlib terakhir Suriah utama setelah serangan rezim selama sebulan yang menewaskan warga sipil dan memaksa hampir satu juta orang melarikan diri.

Dilansir dari AFP, pada Senin (11/5), Bentrokan terjadi di barat laut Suriah dan menewaskan 48 pejuang rezim dan jihadis pada hari minggu. Angka kematian ini tercatat tertinggi sejak dimulainya gencatan senjata pada dua bulan terakhir.

Bentrokan yang terjadi di daerah Sahl al-Ghab menewaskan 35 pejuang rezim juga 13 jihadis dan termasuk dari kelompok Hurras al-Daen yang berafiliasi dengan Al-Qaeda.

Bermulanya, sebelum fajar pada hari minggu, pemberontak menyerang posisi para pejuang pro-rezim di wilayah sisi barat yang di dominasi jihadis.

“itu adalah angka kematian tertinggi bagi para pejuang sejak gencatan senjata mulai diberlakukan, ada bentrokan intermiten dan pemboman timbal balik antara kedua belah pihak ini sebelumnya, tapi ini adalah suatu serang paling kejam”, kata Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, Rami Abdel Rahman, seperti dilansir dari AFP.

Addel Rahman juga menyampaikan wilayah Idlib yang hanya berpenduduk sekitar tiga juta orang didominasi oleh kelompok Hayat Tahrir al-Sham yang dipimpim oleh mantan afiliasi Al-Qaeda Suriah, tetapi seperti jihadis Hurras al-Deen dan kelompok pemerontak lain juga hadir di wilayah tersebut.

Gencatan senjata yang terjadi di Suriah yang ditengahi oleh rezim Rusia dan pendukung pemberontak Turki telah membuat pesawat-pesawat tempur milik Suriah dan Rusia keluar dari langit wilayah tersebut, dan sebagian besar ditahan meskipun terjadi bentrokan sporadis juga atau tembakan roket.

Perang di Suriah ini telah menewaskan lebih dari angka 380.000 orang dan menggusur jutaan orang sejak dimulai pada tahun 2011 dengan penindasan brutal terhadap protes yang anti-pemerintah.

Komentar

News Feed