oleh

Manusia, Makhluk Sosial Yang Berakal Sehat

Nanggroe.net | Aku sangat ketakutan, akhir akhir ini manusia sudah tidak manusiawi. Mengapa demikian? Pastilah pertanyaan itu akan terlontarkan jika membaca kalimat di atas, maka dari itu izinkan aku untuk sedikit bermain dengan kewarasan.

Aku melihat sejarah bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa lingkungan, begitupun lingkungan tidak akan terbentuk tanpa adanya manusia, saling berhubungan tidak bisa lepas. Kemudian muncul lah virus yang sangat berbahaya yaitu kehilangan akal sehat.

Semakin canggihnya teknologi dan perkembangan zaman, aku semakin menemukan bahwa kita semakin jauh dengan kewarasan, bagaimana tidak kita setiap hari termanjakan dengan manisnya teknologi saat ini, lalu melupakan setiap inci dari proses interaksi.

Semua kita lalui dengan instan dan melupakan suatu hal yang sangat fundamental yaitu proses, marilah kita lihat bagaimana suatu peradaban manusia itu terbentuk dari interaksi yang berlangsung dengan sangat lama, setiap sendi memiliki dua sisi yang saling berkontraksi dimana satu sama lain mencoba untuk mencapai hal yang baru hal yang lebih tinggi.

Namun itu semua kini sudah hilang, manusia tidak lagi memikirkan untuk apa dia di ciptakan, manusia terlalu kaku untuk hidup, manusia terlalu menjunjung tinggi etika namun kemudian melupakan estetika, padahal kedua hal tersebut haruslah berjalan beriringan, etika tanpa estetika menjadi suatu hal yang kaku begitu pula sebaliknya estetika tanpa etika akan menjadikan kebrutalan tanpa henti.

Manusia pada hakikatnya itu mencari dan terus mencari tanpa henti kemudian juga saling berhubungan satu sama lain dengan hubungan yang kolektif dan harmonis, sebelum akhirnya kemanjaan tersebut merenggut akal sehat mereka. Mereka terus menerima tanpa mempertanyakan, mengiyakan tanpa mempertimbangkan, lalu apakah itu membuat kita hidup? apakah itu menandakan kita makhluk yang berakal?

Kita melupakan bahwasanya akan sangat indah hidup ini tanpa ada yang saling menindas, namun kita malah terbuai akan suatu hasrat memiliki segalanya kemudian menginjak sesamanya, menjadikan sesuatu hal yang diinginkan menjadi milik pribadi dengan menghalalkan segala cara, hasrat itu kian menular ke berbagai sendi sendi Masyarakat, entah di tularkan melalui interaksi maupun melalui kebijakan.

Cobalah sesekali tanyakan pada diri kita apakah yang kita lakukan selama ini memberikan manfaat kepada orang banyak atau malah merugikan orang banyak, apakah kita sudah menjadi makhluk sosial yang saling memperdulikan ataupun menjadi makhluk induvidual yang saling menghancurkan.

Sebagai manusia seharusnya akal sehat dapat menjadikan kita berbeda daripada hewan, kita dapat berpikir kita dapat melakukan apa yang telah kita pikirkan sebelumnya, namun sekarang kebanyakan dari kita sudah tidak memerlukan akal sehat, lalu kemudian menjadikan kita semua pembunuh, ya pembunuh yang aku maksudkan disini ialah membunuh sisi kemanusiannya sendiri, dengan menganggap kita adalah individu yang terpisah, masing masing dari kita haruslah memikirkan dirinya sendiri saja, padahal seharusnya kita harus saling menjalin hubungan membangun suatu hal dengan kolektif, saling memikirkan nasib satu sama lain hingga kesejahteraan itu akan muncul berkat upaya kolektif dari kita.

Manusia sekarang terlalu ambisius untuk menjadi tidak manusiawi, Entahlah membayangkan saja sudah membuat bulu kudukku merinding, sangat mengerikan ketika menjadi manusia yang seperti itu.

Dedi Ismatullah mahasiswa Unimal, 15 Februari 2020.

Komentar

News Feed