oleh

Abu Kruet Lintang Dalam Pelukan Kasih Sayang Nya

Nanggroe.net, Aceh Utara | Berita yang paling tidak ingin kita dengar kembali terdengar dan tersebar di setiap unggahan di pelbagai media sosial. Ya, berita kehilangan sosok penerang hidup kembali menusuk hati. Di tengah malam nan mulia, sedang-sedangnya kita menanti dan mengejar lailatul qadar, kita dikejutkan dengan berita wafatnya Sang Lampu Ummat.

Kita mengenal beliau adalah sosok ulama yang memiliki kepakaran menyederhanakan bahasa yang tinggi. Tak heran, jika dalam setiap muzakarah dan Bahtsul Matsail beliau sering menjadi pemateri yang membahas problem-problem yang dianggap tinggi dalam kasus tauhid dan tasawuf. Melalui lisan mulianya, segala ta’bir klasik yang tinggi itupun menjadi gurih, renyah dan menjadi konsumsi bagi awam.

Abu Kruet Lintang, begitu kita menyebutnya. Beliau adalah ulama yang punya sisi dekat dengan kalangan akar rumput. Saya sering menyaksikan, ketika datang ke Lhoksukon, banyak yang menemui Abu secara khusus untuk curhat dan meminta solusi bagi masalah yang dihadapinya. Terkhusus bagi warga di Keude Lhoksukon, mereka punya kenangan indah bersama Abu ketika beliau masih nyantri di sini. Lama Abu menetap di Lhoksukon. Saya lupa persis tahunnya. Dalam cerita Abu, saya ingat, itu sekitar tahun 70-an.

Bagi maayarakat Lhoksukon, Abu Kruet Lintang adalah cerminan Abu Sulaiman. Jika ingin melihat tegasnya sosok Abu Ulee Tutu (sapaan akrab bagi Abu Sulaiman), maka lihatlah Abu Kruet Lintang.

Malam ini, salah satu murid terbaiknya Abu Syeikh Sulaiman Lhoksukon ini dijemput menuju pelukan kasih sayang Rabbi… Selamat jalan Sang Guru Mulia, selamat berlebaran dengan Sang Kekasih duhai penerang hidup kami… Rahimakallah Sayyidii Syeikh Abdullah Ibn Rasyid…

*) Penulis Tgk. Maksalmina Hasan dikutip dari akun Facebook nya Max Al Fathany

Komentar

News Feed